“SIAPA SURUH JADI AKTIVIS?”
oleh : frans hadi wijayanto
    
Jangan mengambil kesimpulan sebelum membaca tulisan ini sampai titik terakhir. Saya teringat beberapa tahun yang lalu ketika masih kuliah dan seorang kawan berkata kepada saya, “Ngapain aktif di kemahasiswaan, mending ingat itu lulus!!”. Saya hanya kaget dan terdiam waktu itu, tetapi saya juga paham latar belakang kawan yang mengatakan tadi. Tidak ada untungnya juga berdebat dengan dia. Toh pemikiran kita berdeda dan organisasi itu juga mengajarkan perbedaan…
Setiap universitas pasti mempunyai Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) maupun Organisasi Kemahasiswaan (OK) yang menampung segala aspirasi dan bakat para mahasiswanya. Kegiatan kemahasiswaanya bisa meliputi kegiatan penalaran dan kelimuan, minat dan kegemaran, kesejahteraan mahasiswa, ataupun bakti sosial mahasiswa. Setiap mahasiwa berhak memilih salah satu atau lebih UKM atau OK sesuai minat dan keinginannya tanpa adanya suatu paksaaan. Ada juga mahasiswa yang tak mengikuti sama sekali UKM atau OK tapi itu tidak menjadi suatu masalah yang besar. Di kampus, kita termasuk golongan yang mana? Aktivis mahasiswa? Atau hanya sekedar berkunjung saja untuk mengikuti kegitan pembelajaran di kelas? Baik mahasiswa aktivis atau bukan nampaknya tidak ada perbedaan dalam penilaian dosen terhadap mahasiswanya. Pertanyaan yg muncul adalah “Penting gak sih jadi aktivis mahasiswa?
Kalau kita lihat dan bandingkan di universitas kita yang terdiri dari 3 struktural Organisasi Kemahasiswaan yaitu BEM Universitas, BEM Fakultas, dan HMJ disetiap jurusannya serta sejumlah UKM yang lebih berpedoman kepada minat dan bakat mahasiswa, maka ini bisa menjadi tolak ukur yang cukup akurat untuk melihat betapa hidupnya kegiatan mahasiswa di UPN “Veteran”Yogyakarta yang menganut prinsip “Disiplin, Kreatifitas, dan Kejuangan”. Dengan banyak dan beragamnya kegiatan yang dapat diikuti oleh mahasiswa, maka ini dapat dijadikan alat bagi kita untuk melatih diri dalam berorganisasi, melatih mental, menciptakan pemikiran yang kritis,  belajar berbeda pendapat, dan mampu mengeluarkan ide dan saran sebagai penengah permasalahan yang nantinya dapat menghasilkan mahasiswa yang tidak hanya memiliki hard skiil tapi juga memiliki soft skiil yang bagus. Organisasi mahasiswa dibentuk bukan tanpa alasan, organisasi mahasiswa didirikan dalam rangka mengembangkan potensi diri kearah perluasan wawasan, peningkatan cendikiawan dan pengembangan potensi mahasiswa yang mempunyai bakat atau potensi tependam. Hal ini bisa dianggap sebagai pemanasan sebelum mereka terjun langsung ke dunia kerja yang nantinya juga menuntut mereka untuk masuk dalam sebuah organisasi.
Saya teringat kata-kata salah satu pembicara dalam sebuah seminar nasional yang saya ikuti yang mengatakan “Saya sering katakan kepada aktvis kampus. Kalau masih mau banyak bersenang-senang, masih mau tidur 8 jam sehari, masih pingin punya waktu bermain yang lama, jangan jadi aktivis. Pilihan menjadi aktivis harus didasari dengan kesadaran semua konsekuensinya. Kalau ada mahasiswa tidak pernah kuliah dengan alasan menjadi aktivis, mungkin mahasiswa ini belum siap jadi aktivis. Kalau ada aktivis mengeluhkan kurang tidur karena banyak kerjaan, nampaknya si mahasiswa ini belum sadar akan pilihannya. Kalau ada mahasiswa aktivis penganut paham hedonisme, sangat mungkin dia ikut-ikutan aktif, atau malah menjadi aktivis hedonisme alias hedonis. Dari sini kita dapat mengambil pemahaman baru tentang pengertian apa itu seorang aktivis kampus. Ini tentunya menjadi acuan baru bagi teman-teman yang mempunyai paradigma lama yang hanya lebih menekankan kegiatan kampus dan mengacuhkan kegiatan perkuliahan.
Namun satu hal yang sangat perlu diperhatikan dalam tulisan ini bahwa pandangan kita terhadap seorang aktivis itu adalah orang yang berkecimpung ke dalam suatu organisasi kemahasiswaan yang anti birokrasi dan selalu menyampaikan pendapatnya dengan turun kejalan tidaklah sama. Dalam tulisan ini saya mempersempit kajian “aktivis” ke dalam bentuk yang lebih sederhanya dan lingkupnya hanya disekitar kampus kita tercinta yaitu UPN ”Veteran” Yogyakarta. Menurut pandangan saya aktivis mahasiswa bukanlah hanya seorang yang mengikuti organisasi kemahasiswaan dikampus tetapi juga seorang mahasiswa yang mau dan mampu mengikuti ajang perlombaan baik itu berupa minat dan bakat maupun ilmiah yang terkait dengan perkuliahan walaupun dia tidak mengikuti organisasi kemahasiswaan. Hal ini didasarkan oleh prinsip yang sama yaitu sama-sama berjuang dan aktif terhadap apa yang ditekuni dan diminati. Perbedaannya hanya kalau aktivis yang berorganisasi kemahasiswaan lebih menekankan hasil pemikirannya melalui lisan dan tatap muka terhadap birokrasi, namun aktivis yang mengikuti perlombaan lebih menekankan hasil pemikirannya melalui tulisan. Yang sangat diharapkan adalah apabila aktivis organisasi kemahasiswaan yang memiliki pola pikir yang kritis terhadap suatu masalah juga mampu mengikuti suatu perlombaan baik berupa ilmiah maupun minat dan bakat. Hal ini tentunya juga sangat diharapkan oleh pihak birokrasi karena mampu membawa nama harum kampus kita keluar sehingga dapat memperlihatkan bahwa mahasiswa kita tidak hanya kritis numun juga intelektual.
Kita jangan terlalu mengurusi masalah persentase kehadiran di kelas. Tuntutan 75% kehadiran bukanlah untuk membunuh para aktivis kampus yang sering dikenal jarang masuk kelas untuk mengikuti kegiatan lainnya diluar pembelajaran, namun lebih untuk menekankan tingkat kedisiplinan. Bukannya kalau kita ada kegiatan lain bisa ijin untuk tidak masuk kuliah. Kuliah jangan mengganggu aktivitas, dan aktivitas jangan sampai mengganggu kuliah. Mbolos kuliah satu-dua-tiga kali karena alasan yang tepat adalah sebuah kewajaran. Tetapi kalau dosen mengajar 14 kali dan sang aktivis hanya hadir sekali atau dua kali di kelas dan menuntut mendapatkan perlakuan yang sama dengan yang rajin hadir, jangan-jangan mahasiswa ini tidak siap menjadi aktivis.
Antara IPK tinggi dan Organisasi Mahasiswa, keduanya sama - sama berguna bagi tiap mahasiswa karena keduanya mempunyai tujuan yang positif bagi mahasiswa . IPK tinggi dan orgasnisasi saling berhubungan erat dalam menempuh kesuksesan seorang mahasiswa. IPK tinggi sangat berguna jika mahasiswa ingin melamar pekerjaan sesuai bidangnya, kemungkinan besar mereka akan diterima disetiap pekerjaan yang diminati. Organisasi kemahasiswaaan juga sama pentingnya dengan IPK tinggi . Dilihat dari
fungsinya bahwa organisasi ini merupakan bentuk manifestasi penyiapa
n diri mahasiswa untuk menjadi agent of change setelah menyelesaikan studi hingga kembali ke masyarakat. Dengan berorganisasi kita akan mendapat berbagai pengalaman, pengetahuan serta channels untuk kedepannya nanti setelah lulus.
Kalau perlu, jika Anda mahasiswa aktivis dan ada kegiatan yang menurut Anda sangat penting dan mengharuskan Anda mengikutinya padahal bersamaan dengan ujian, ikuti kegiatan tersebut dan tinggalkan ujian. Anda bisa ikut kuliah yang sama semester depan. Ini adalah pilihan yang sangat rasional. Jangan sesali pilihan ini. Anda akan bangga menjadi orang yang sadar dengan pentingnya keadilan dalam bersikap. Kalau tidak, jangan-jangan Anda belum siap menanggung konsekuensi sebuah pilihan hidup. Inilah repotnya menjadi aktivis, dan di sinilah sekaligus nikmatnya.
                Janganlah takut terhadap momok yang sering mendampingi aktivis mahasiswa yaitu mahasiswa yang lama lulusnya. Apabila konsekuensi yang kita ambil dan kita yakini dijalankan dengan baik, mungkin saja kita bisa jadi mahasiswa yang lulus lebih awal dibandingkan dengan mahasiswa biasa. Namun apabila seorang aktivis lulus melebihi waktu yang seharusnya, itu juga harus menjadi pacuan untuk kita semangat untuk menyelasikan perkuliahan. Kita dapat berbicara bahwa aktivis itu penting berdasarkan fakta kelulusan. Tentu para aktivis sudah tidak asing lagi yang namanya Karya Cendekia. Dari hasil penerima karya cendikia tentunya adalah mayoritas para aktivis kampus. Ini tentunya suatu apresiasi kampus bagi para aktivis. Hal yang sering terlupakan oleh mahasiswa adalah terlalu berprinsip terhadap kelulusan sehingga terlalu hanya mengejar ijazah saja, namun kurang memperhatikan apa yang didapat didalam perkuliahan dan kampus. Justru peluang pekerjaan itu mencari orang dengan kemampuan bukan hanya ijazah semata.  Tapi ingatlah, kelulusan itu ada dua: lulus dengan tepat waktu atau lulus dengan waktu yang tepat. Tergantung kita menyikapi hal tersebut.