Membaca dan menyimak berita yang ada di media, membuat gw menilai, kalau Indonesia merupakan negeri yang tak pernah lepas dari berita negatif. Setiap hari, setiap saat, pasti ada berita kayak itu.
Dari mulai orang biasa, hingga artis papan atas. Dari mulai pejabat daerah, anggota DPR. Dari maling ayam, hingga penyelendupan kayu. Dari pesta minuman keras di kampung-kampung hingga pesta narkoba para artis. Dari maling dibawah 1 juta, hingga korupsi para pejabat hingga milyaran rupiah. Dan lain-lain, dan lain-lain. Semua itu selalu muncul di media……
S E T I A P H A R I.
Di ranah hukum, yang ternyata hukuman untuk Ariel Peterpan, (yang notabene hanya menjadi korban dari kasus penyebaran video pornonya dengan beberapa artis) jika diamati dengan jeli, hukumannya jauh lebih ringan dari hukuman seorang Gayus Tambunan, yang menjadi mafia perpajakan senilai puluhan milyar. Atau kasus yang menimpa Nenek Minah (55 tahun), yang nggak pernah nyangka perbuatan isengnya memetik 3 buah kakao di perkebunan milik PT Rumpun Sari Antan (RSA) akan menjadikannya sebagai pesakitan di ruang pengadilan. Bahkan untuk perbuatannya itu dia diganjar 1 bulan 15 hari penjara dengan masa percobaan 3 bulan.
Beralih ke bagian olahraga. Kehebatan Timnas Indonesia dan slogan “Garuda Di Dadaku” seolah langsung menghilang ditelan bumi beserta lapisannya yang terdalam, gara-gara isu korupsi di dalamnya. Ketua Umum Nurdin Halid masih aja betah duduk disinggasananya, padahal hampir semua masyarakat menyuruhnya untuk berhenti dan mengganti posisi ketua umum itu dengan orang yang baru, yang lebih ‘bersih’ dan lebih mendukung persepakbolaan nasional pastinya.
Hal yang paling nyata timbul dari konflik PSSI ini adalah, adanya Liga Primer Indonesia, atau LPI. Banyak klub-klub yang berpindah ke LPI dengan alasan ketidak puasan terhadap liga yang dibuat oleh PSSI, atau Liga Super Indonesia (LSI). Buntut dari kejadian tersebut yaitu, menghilangnya nama-nama seperti Irfan Bachdim dan Kim Kurniawan dari skuad timnas besutan Alfred Riedl, yang akan dibawa ke SEA Games dan Pra Olimpiade. Karena, klub yang dibela oleh kedua pemain tersebut (Persema Malang), lebih memilih pindah ke LPI daripada tetap bermain di liga naungan PSSI.
Setelah liga pecah menjadi dua, beberapa waktu terakhir ini, beredar kabar kalau hasil pertandingan final Piala AFF antara Malaysia vs Indonesia sudah diatur termasuk di dalamnya ada praktek suap. Isu itu berawal dari sebuah surat elektronik, dari seseorang yang mengaku pegawai Ditjen Pajak Kementrian Keuangan, yang isinya menyebut kalau timnas Indonesia memang diatur untuk kalah dari Malaysia di final pertama. Di dalam surat yang ditujukan ke Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dan ditembuskan ke sejumlah media, menyebutkan bahwa pengurus PSSI mendapat uang miliaran rupiah dari hasil ‘pengaturan’ itu. Itulah yang akan menjadi modal untuk melanggengkan kekuasaan Nurdin Halid di PSSI. Namun, Sekjen PSSI Nugraha Besoes menampik keras informasi yang beredar luas ini. Menurutnya, merupakan hal yang gila jika PSSI mengorbankan harga diri bangsa demi segelintir uang.
Belum lagi masalah sosial, kelaparan, pemerkosaan, mutilasi, pengangguran, anak jalanan, putus sekolah, kemiskinan, dan lain-lain. Ya! Itulah berita-berita yang pasti muncul di media setiap harinya.
Kasus yang paling terakhir, - sebelum saya membuat tulisan ini – adalah kasus tentang kemajemukkan umat beragama. Yaitu kasus penyerangan terhadap Jamaah Ahmadiyah di Cikeusik, Pandeglang, Banten (6/2/2010). Sebanyak enam orang dikabarkan tewas akibat penyerangan oleh ribuan warga Cikeusik tersebut. Namun menurut Kepala Kepolisian Resor Pandeglang AKBP Alex Fauzy Rasyad, korban yang tewas sebanyak tiga orang bukan enam orang. Ditambah beberapa orang/jamaah yang mengalami luka-luka.
Gw emang kurang ngerti tentang keberadaan Jamaah Ahmadiyah, mereka salah atau tidak, mereka mengganggu atau tidak, yang saya mengerti hanya satu, hal tersebut sudah masuk tindak kriminal, yaituPEMBUNUHAN, menghilangkan kesempatan orang lain untuk tinggal lebih lama di bumi. Dan gw sangat percaya, tidak ada satupun agama yang mengajarkan perbuatan yang sangat keji tersebut.
Akibat berita-berita tersebut, membuat gw bertanya-tanya….. Apakah kita udah benar-benar merdeka?
Apakah kita udah benar-benar merdeka? Jika setiap kita berhenti di lampu merah, didatangi oleh ibu-ibu yang menggendong anaknya sambil meminta-minta uang.
Apakah kita udah benar-benar merdeka? Jika kita selalu kesulitan mengurus hal-hal yang berbau birokrasi. Membuat paspor bisa berminggu-minggu jika tidak memakai ‘pelicin’. Membuat SIM bisa berhari-hari, jika tidak kenal ‘orang dalam’. Mengurus pajak bahkan bisa berbulan-bulan.
Apakah kita udah benar-benar merdeka? Jika kita yang hidup di ibukota, selalu dibuat emosi oleh kemacetan. Jarak satu kilometer ditempuh dalam waktu 1 jam! Masuk kantor pukul 9 pagi, berangkat dari rumah pukul 5.30, pulang kantor pukul 5 sore, sampai rumah jam 9 lewat.
Gw nggak butuh jawaban tentang pertanyaan, “Apakah kita sudah benar-benar merdeka?”, tetapi alangkah baiknya jika kita renungkan, dan kita cari solusinya.
Semua orang bisa berteriak, “I Love Indonesia!!”, “Indonesia tanah tumpah darahku”, “Untukmu Indonesiaku”, “Di hatiku hanya ada satu, Indonesia”. Semua orang juga bisa mengkritik. Mengkritk menteri, mengkritik para wakil rakyat, mengkritik kebijakan pemerintah, apa saja. Apalagi saat ini, komunikasi kita seolah menjadi tanpa batas, dengan hadirnya berbagai macam social media. Seolah-olah kita bisa ‘berteriak’ apa saja di social media.
Seperti ketika kejadian penyerangan terhadap Jamaah Ahmadiyah di Cikeusik. Twitter kebanjiran ‘amarah’ dan ‘kutukan’ dari para pengguna akun sosial media berlambang burung biru tersebut. Timeline menyerbu secara sporadis para pelaku penyerangan tersebut. Dari designer, broadcaster, staff finansial, manajer perusahaan, blogger, web developer, ibu rumah tangga, pokoknya semuanya deh.
Tapi, apakah itu yang dibutuhkan oleh negara ini?
Presidennya berkata “Saya turut prihatin”, rakyatnya lalu mengutuk, sebuah kombinasi yang itu-itu saja, dan pasti terjadi jika ada sesuatu yang ‘negatif tingkat tinggi’ di Indonesia. Hanya sekedar teriakan-teriakan super lantang. Seperti memindahkan tempat demonstrasi di jalanan ke dunia maya. Setelah itu? Lenyap seperti debu yang tertiup angin. Hari kedua, hari ketiga, dan berikutnya kehidupan di Twitter kembali normal dan seolah kejadian penyerangan di Cikeusik nggak pernah terjadi. Padahal, proses hukum masih harus berjalan, dan diawasi oleh kita semua.
Saatnya kita BERBUAT, untuk negeri ini. Bukan hanya berteriak-berteriak tanpa ada aksi yang berkelanjutan. Berbuatlah hal yang kongkrit dan sederhana. Hal-hal kongkrit yang ada di sekitar kita.
Buang sampah pada tempatnya, membuat penghijauan, menghemat listrik, membuat daur ulang, gotong royong membersihkan selokan, membuat penghijauan, jauhi narkoba, saling menghormati dan menjaga perdamaian sesama umat beragama, mengawasi aparat hukum dalam menjalankan tugasnya, menjaga persatuan dilingkungan pertemanan, dan masih banyak hal-hal kecil namun kongkrit yang bisa kita lakukan untuk negeri ini.
Karena hal yang besar itu terjadi karena adanya hal-hal yang kecil.
Dan untuk kalian semua yang sudah melakukan hal-hal tersebut, kalian pantas disebut sebagai penerus para pahlawan yang nyata!
<tempat sampahnya arga>
<tempat sampahnya arga>

0 komentar:
Posting Komentar